Hadis Abu Umair dan burung Nughair serta kritikan terhadap perawi hadis tersebut

Semua ucapan yang keluar dari lisan Nabi adalah wahyu, Otomatis, tidak ada satupun kalimat yang lahir dari lisan Nabi yang bernilai sia-sia. Di setiap untaian kalimat, pasti terdapat banyak hikmah yang dapat dipetik oleh orang-orang tertentu yang sudah punya modal dan alat untuk memetik nya.

Namun dalam sejarah perkembangan hadis, pernah tercatat bahwa ada sebuah Hadis Nabi yang dianggap tidak perlu untuk diriwayatkan. Dianggap tidak memiliki banyak manfaat yang dapat dijadikan sebagai sandaran hukum. Perawinya pun dianggap telah melakukan sebuah hal yang tidak berguna.

Perawi Hadis tersebut dicela karena telah meriwayatkan dan mengajarkan sebuah hadis yang sia-sia. Hadis tersebut dianggap hanya sebatas bentuk candaan Nabi dengan seorang bocah. Salah seorang perawi hadis tersebut adalah Imam Bukhari.

Kisah Hadis


Ada seorang bocah kecil yang hobi bermain main dengan seekor burung. Bocah kecil tersebut adalah adiknya Anas bin Malik se-Ibu. Suatu ketika, sang bocah kecil yang dijuluki dengan panggilan Abu Umair bin Abi Thalhah merasa sedih karena burung kesayangannya mati.

Melihat wajah Abu Umair yang tidak ceria, Rasulullah bertanya: apa gerangan yang terjadi dan menyebabkan wajah Abu Umair terlihat begitu sedih?. Lalu Anas bin Malik menerangkan kepada nabi sebab musabbab kesedihan adik se-ibunya tersebut.

Mendengar jawaban kakanda Abu Umair, Rasulullah langsung berbicara kepada Abu Umair dengan nada seolah-olah sedang bercanda:

يا ابا عمير ، ما فعل النغير

"Wahai Abu Umair, Apa yang telah dilakukan oleh "Nughair" (Nama burung)"

Diantara Hikmah-hikmah Hadis


Ibnu al-Qash, seorang ulama yang hidup pada abad ke empat dalam mazhab Syafiiyah menulis kekecewaan beliau terhadap para pengkritik yang telah mengkritisi periwayatan hadis ini sebagai hadis yang tidak berfaedah.

Rasa kekecewaan ini, beliau tuangkan dalam di awal Kitab yang beliau tulis. Kitab tersebut beliau namakan dengan "Fawaid Hadis Abi Umair" (faedah-faedah yang terkandung dalam Hadis Abu Umair). Dalam Kitab tersebut, Ibnu al-Qash berhasil menemukan enam puluh (60) kesimpulan Hukum Fiqh dari hadis pendek tersebut.

Diantara hikmah Hadis Pendek Abu Umair yaitu anjuran bersikap tawadhuk baik kepada orang dewasa maupun anak-anak. Salah satu tanda tawadhuk adalah hilangnya rasa rendah diri karena bergaul dan berinteraksi dengan anak-anak.

Hikmah lainnya adalah anjuran agar bergaul secara baik terhadap siapapun, tanpa dibatasi oleh usia. Nabi telah mencontohkan betapa pedulinya beliau kepada anak Sahabat beliau. Buktinya adalah beliau bertanya dan prihatin dengan kesedihan yang terpancar dari raut wajah adiknya Anas bin Malik.

Diantara Hikmah hukum fikih yang tersirat dari hadis tersebut adalah bolehnya menaruh dan memanggil orang lain dengan panggilan kuniyah (panggilan yang di awali dengan Abu atau Umi). Abu Umair adalah seorang bocah yang masih usia minum asi, tetapi sudah di kuniyah-kan oleh baginda Nabi.

Kesimpulan


Tentunya masih sangat banyak hikmah-hikmah yang terkandung dalam hadist tersebut dan tidak mungkin ditulis dalam artikel ini semuanya namun poin penting yang perlu dicatat bahwa tidak ada satupun lafaz yang keluar dari lisan nabi yang bernilai sia-sia dan tidak berfaedah.

Hadits Nabi hanya dapat dipahami secara langsung oleh orang-orang sekaliber Ibnu al-Qash yang telah punya modal dan alat untuk memahami langsung hikmah-hikmah yang tersirat, karena secara tekstual hikmah tersebut tidak akan ditemukan.

Popular posts from this blog

Melihat kerancuan Argumen Naqli kelompok Inkar Sunnah (Anti Hadis)

Menanti Fatwa MUI, 3 Aspek utama hukum Haram game PUBG

Menelaah Tradisi dan doa khatam al-Quran